bahkan dalam taraf rendah sekalipun. Bahan penahan api adalah bahan kimia yang digunakan dalam plastik tahan panas, tekstil dan pelapis yang berfungsi menghambat atau menahan penyebaran api seperti pelapis pada jok mobil.
Dalam penelitian tersebut, tikus betina yang terkena bahan kimia tahan api selama di dalam rahim dan menyusui kurang dapat bersosialisasi dibandingkan dengan tikus yang tidak terpapar zat kimia tersebut. Tingkat
bahan kimia penahan api yang digunakan dalam penelitian ini sama dengan yang terdapat pada manusia.
Namun, masih terlalu dini untuk mengatakan apakah temuan ini juga berlaku untuk manusia. Bahan kimia penahaan api ini dapat mempengaruhi bayi hanya jika sang bayi memiliki kecenderungan genetik yang membuatnya sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan.
"Namun, temuan ini tetap dapat menyebabkan kekhawatiran. Kita harus mulai bertanya bahan apa saja yang ada dalam produk yang kita konsumsi. Meskipun bahan penahan api seperti polybrominated diphenyl ethers (PBDEs) dilarang pada tahun 2004, bahan ini dapat bertahan dalam jaringan, khususnya jaringan otak selama beberapa waktu," kata peneliti Janine LaSalle, profesor di departemen medis mikrobiologi dan imunologi di School of Medicine University of California, Davis.
Penemuan ini menambah semakin banyak bukti bahwa gen dan lingkungan dapat berinteraksi untuk menyebabkan autisme. Bahan kimia dapat mengganggu gen tertentu. Seberapa besar peran gen dan lingkungan yang mempengaruhi autisme ini bisa berbeda, tergantung pada orangnya.
"Autisme adalah gangguan yang tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja. Penyebabnya di lapangan mungkin sedikit unik," kata LaSalle seperti dikutip myhealthnewsdaily.com, Jumat (24/2/2012).
Dalam pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science, LaSalle memaparkan bahwa ibu tikus dalam penelitiannya memiliki mutasi gen yang membuatnya sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan dan menunjukkan ciri-ciri autis. Ketika ibu tikus ini melahirkan, beberapa keturunannya mewarisi mutasi gen sedangkan beberapa di antaranya tidak.
Tikus yang tidak mewarisi mutasi masih menunjukkan gangguan perilaku sosial setelah terkena bahan penahan api ketika dalam kandungan. Perilaku ini berkaitan dengan perubahan kimia dalam gennya. Namun tikus yang mewarisi mutasi memiliki gangguan sosial dan memori.
Tikus betina dalam penelitian ini lebih rentan terhadap pengaruh lingkungan daripada tikus laki-laki. Ini sedikit mengejutkan karena biasanya laki-laki lah yang lebih cendereung terpengaruh oleh autisme. Bisa jadi perbedaan kerentanan terkait jenis kelamin ini disebabkan perubahan gen yang dipicu bahan kimia.
sumber:detik.com